Catatan Ustadz Yusuf Mansur
Allah pengen kita jadi Musa...
Oleh : Ustadz Yusuf Mansur
Kawan-kawan www.KuliahWisatahati.com...
Kawan-kawan Telegram KuliahWisataHati...
Kawan-kawan Daqu, PPPA, Rumah2 Tahfizh... & all ekosistemnya...
Santri2 Ayah, Ayah Bundanya dan semua keluarga besarnya...
Donatur2 PPPA dan Pesantren dan seluruh keluarga besarnya...
Kawan-kawan 3 kampus... iDaqu, AntarBangsa, MahakaryaAsia...
Kawan-kawan Waroeng Steak and Shake, dan pelanggan2nya...
Kawan-kawan Socmed segala socmed...
Kawan-kawan MNC Group...
Kawan-kawan Times Indonesia...
Kawan-kawan Paytren, TreniNet, dan juga semua ekosistemnya...
Dan seluruh masyarakat Indonesia, di manapun berada...


9 Juni 2020, jam 7pg...

Bismilaah...


BICARA BUKAN MANUSIA BIASA...
TAPI MANUSIA BERIMAN...

BICARA IMAN YANG MEMBELAH LAUTAN...
DENGAN IZIN ALLLAH.

'BICARA IMAN, KUASA DAN KEBESARAN ALLAH,
YANG SELALU JAUH DI ATAS DATA, FAKTA, DAN LOGIKA...

IMAN DI TITIK NADIR...

BICARA IMPIAN, HARAPAN...

SELALU ADA JALAN...


Selamat membaca. Selamat belajar... Dinikmati. Jangan baca cepet2. Apalagi skrol2. Santai. Rileks. Cari waktu.


Bismillaah... Kiita mulai...

Allah pengen kita jadi Musa... Pengen kita kayak Nabi Musa. Pengen kita ngikutin Nabi Musa... Cara berpikirnya, caranya mengimani Allah, caranya berpikir besar dan luas, ga ada tembok yang menghalangi, ga ada tepian yang menjadi penghalang, dan ga ada 1 pun hal, sekitar Nabi Musa, yang melemahkan, membuatnya kecil, payah, down, cemas, khawatir, lalu memutuskan kalah saja. Memutuskan nyerah aja.

Tawakkal yang bener itu ya tawakkalnya Nabi Musa.

ikhtiar dulu abis-abisan... Berdoa dulu abis-abisan..... Dan... Ga menyerah dengan keadaan, tetap optimis, tetap besar hati, tetap penuh harap, tetap penuh syukur. DI antaranya penuh harap, bahwa tetep bakal ada jalan biar gimana. Tetap kebuka jalan. Tetap bisa selamat dan bahkan menyelamatkan. Tetap senang, tetap tenang, tetep menang. Tetap hebat menghebatkan. Tetap motivatif dan inspiratif jadinya. Untuk generasi yang datang belakangan.

Nabi Musa di Qs. Asy Syu'araa... Dikisahkan, "mentok". Setelah diperintahkan berjalan menuju "keselamatan", ke "Tanah Harapan", yang di sana bisa bebas dari Fir'aun... Ternyata perjalanannya dianggap "sia-sia" oleh ummat daa kaumnya sendiri.

Betapa tidak...

Di depan Nabi Musa dan pengikut2nya, yang konon mencapai ratusan ribu orang... Malah terbentang lautan... Yang luas dan nyaris kayak ga bertepi. Laut itu kayak menantang Musa dan pengikutnya, menjadi lawan lain selain Fir'aun dan pengikutnya. Yang bikin serta merta langsung down. Langsung "selesai". Sebab ga mungkin dilawan secara akal pikiran. Gimana coba melawannya? Bikin perahu? Ya ga siap. Dan scr waktu, bahan, tenaga, ga mungkin. Asli ga mungkin. Lautan itu seperti akan menghentikan Musa dan pengikutnya.

Dari sini kita belajar... Lagi...

See..

Lihat..

Kesulitan, tantangan, hambatan, bisa juga dianggap ga bertepi saking luasnya, dan dalamnya.

Tapi buat orang yang beriman, yang kelasnya Kelas Nabi Musa... Ga ada tuh lautan itu. Yang ada hanya Allah, Allah, Allah.

Yup.

Nabi Musa sebagai manusia tentu melihat data, fakta, dan logika, berupa laut. Berupa lautan. Tapi iman Nabi Musa di atas data, fakta, dan logika.

Tapi bukan manusia biasa. Kita juga. Andai mau beriman. Mengimani Allah. Nabi Musa menjadi manusia beriman. Kita juga. Bisa berpeluang menjadi manusia yang bukan manusia biasa. Jadi manusia beriman...

Bukankah Allah, Akbar? Allah jauuuuuuhhh lebih besar dari lautan? Jauh lebih besar dari segala apa kesulitan, kesusahan, persoalan, dan permasalahan?

Kenapa juga ga yakin?

Dan bukankah iman juga perlu dites, perlu dijajal, perlu diuji...? Kapan lagi...?

Kita juga perlu keadaan2 seperti yang dialami oleh Nabi Musa... Supaya kita bisa ngetes juga iman kita, ngejajal, dan nguji iman kita sendiri.

So, bila keadaan kawan-kawan, dianggap menyerupai Kisah Nabi Musa, berbahagialah. Allah sedang menghidangkan, menghadirkan, peristiwa iman. Dan peristiwa iman selalulah merupakan peristiwa besar sekali bagi kita, ummat manusia, yang suka mengaku punya iman, beriman, kepada Allah Yang Kuasa...

Kalau lagi susah, sulit, punya masalah, punya persoalan, atau punya impian yang rasa2 ga mungkin, maka inilah saat terbaik ngejajal iman....

Di Qs. Asy Syu'araa, YANG INSYAA ALLAH KITA AKAN ADA SESI ZOOM, BARENG, bersama kawan2 peserta www.kuliahwisatahati.com... Dikisahkan di sana, bahwa saat menjauh dari Fir'aun, ikhtiar selamat dan menyelamatkan ummatnya, kaumnya, Nabi Musa malah dihadapkan Allah pada jalan yang ga lagi ada jalan. Laut membentang di hadapannya. Sehingga nyaris tidak ada 1 pun ummatnya, kaumnya, kecuali Nabi Harun, yang membersamainya, yang yakin mereka bakal selamat. Semuanya yakinnya bakal ketangkep, bakal hancur, bakal tenggelam, bakal binasa, bakal selesai, bakal tamat, bakal berakhir, bakal ketangkep, bakal mati.

Di belakang mereka, Fir'aun dan tenttaranya udah deket banget2...

Ummat atau kaumnya Nabi Musa, jadi pada horor sendiri. Sebab lebih melihat data, fakta, dan logika. Bukan melihat Allah, al Ghaib Yang Maha Nyata.

"Innaa lamudrokuuun..."

Begitu kata-kata ummat, kaum, Nabi Musa... Hopeless dan teramat negatif. "Kalau gini mah, sia-sia aja berjuang... Sia-sia berupaya.... Tau gini, ya ga usahlah cape2 menghindar... Ngapain? Toh, akhirnya mentok juga.

Semakin bicara data, fakta dan logika, yang ga ada Allah di sana, akan semakin menjadi jadi horornya.

Tapi Nabi Musa melihat Allah.

Sebagai manusia, ya, iya. ?Selain melihat laut, Nabi Musa melihat ummatnya, kaumnya, yang keletihan, lemah, dan payah. Tak ada kekuatan betul. Tak ada kekuatan sama sekali.

Dan sampe sini, bagus, kan?

Tinggal terusin aja, maka jadi sempurna.

Apa?

... Kecuali Kekuatan Allah saja.

Bagus, kan jadinya...?

Komplit. Sempurna. Laa hawla walaa quwwata illaa billaahil 'Aliyyil 'Azhiiim. Tidak ada upaya, tidak ada jalan, tidak ada kekuatan, tidak ada kekuasaan, tidak ada kemampuan, tidak ada jawaban, tidak ada solusi, tidak ada way out, tidak ada lagi apa-apa yang bisa dilakukan sudah...

Bagus, kan?

Asli, tinggal tambahin aja...

... Bener-bener kecuali Allah saja ini mah.

Nah, ini yang dilakukan Nabi Musa...

Hebat sekali. Padahal berisiknya minta ampun. Iya, kalo berisiknya berisiknya positif. Berisiknya melemahkan. Mengecilkan. memtuskan asa dan harapan. Suara-suara yang negatif. Suara orang2 kalah. Suara orang2 yang udah ga ada lagi bicara impian. Yang kalau bicara impian, jalan keluar, malah marah2 kadang. Nyuruh kita malah buka mata. Hehehe.

Ya, kita suka disuruh buka mata, pasang telinga. Disuruhnya melihat data, fakta, dan logika... "Lihat noh, laut... Ga liat...? Ngehadang gitu...? Bisa Kamu...? Nundukin lautan...? Nundukin Fir'aun aja ga bisa. Apalagi nundukin laut...?

Nabi Musa ngejawab dengan enteng...

Dimulai dengan 1 kosa kata pendek penuh makna...

"... Kallaa...""

Ga bakalan...

Ga akan itu terjadi...

"... Kalla..."

Ga bakalan. Beneran diucapkan dengen sangat mantab... Ngalah2in suara ombak, suara air yang menyentuh pasir pantai... Ngalah2in semua suara berisik.... Suara lemah dan melemahkan...

"... Kalla...'

1 kosakata saja. Tapi demikian menggelegar, menghunjam, membahana...

Itu pun, masih dijawab pastinya... "Kalla gimana...? Matamu buta wahai Musa...? Ga liat...? Depan ini lautan...? Dari awal Kamu ga tau wahai Nabiyalllah...? Bahwa Tuhanmu salah...? KIta dari awal berjalan udah menuju tempat kematian...?"

Nabi Musa ga bergeming... "... Kallaa ya Kalla... Engga ya engga. Selamat ya selamat. Ada jalan ya ada jalan. Ada jalan keluar ya ada jalan keluar... Ada solusi ya ada solusi. Berhasil ya berhasil. Lamudrokuun...? Bakal ketangkep sama Fir'aun...? Kalla... Ga bakalan..."

Nabi Musa juga ya kita2. Manusia juga. Bedanya Nabi Musa ya Nabi. Subhaanallaah. Tapi kita disuruh belajar dari Kisah Nabi...

Kita kelak juga akan ada suara kecil barangkali. Tapi menghantam dengan sangat keras... Terdengar seperti suara menghibur. Ternyata itu mematikan...!!!

"Sudah.. Ga apa2...", misalnya... Kata seorang istri, ke seorang suami... Yang "gagal" sekolah. Gagal jalan di jalan rintisan jadi jendral... "Buat saya, punya seorang suami yang sholeh, lebih hebat dari memiliki seorang suami, jendral...", begitu kata istri. Terkesan menghibur.. Tapiii... Ya mangga dipikir sendiri... Monggo dirasa sendiri...

Emangnya ga bisa jadi jendral dan juga shaleh...? Hehehe. Maaf ya...

Saat sang suami merasa ga ada koneksi jendral2, orang2 hebat, yang memuluskan jalan... Apalagi scr fakta, ia ranking ke sekian, misalnya... Tapi bla bla bla... Ada buruk sangka di sana. Bahkan buruk sangka terhadap dirinya, bahwa dirinya kecil, lemah, bukan siapa2.

Jika ini dibiarkan, lautan Musa itu bener-bener menenggelamkan Musa dan bahkan menenggelamkan semua yang bersama Musa. Jika lautan bagi Yusuf, juga dibiarkan, juga lautan Anda semua... Kelak yang akan habis bukan hanya Yusuf, atau Anda. Tapi juga keluarga dan orang2 yang kita cintai, yang sebelumnya banyak harapan ke kita...

Suara2 melemahkan, sunnatullahnya, ada. Suara2 mengecilkan, membuat kecil, dan memupus harapan, sejatinya, akan selalu ada. Menambah bobot ujian itu sendiri...

Kadang suara itu bukan kayak ombak. Kayak "sisa" ombak... Saat menyapa pantai, udah ga kayak ombak... Sapuan saja... Menyapu garis pantai. Bibir pantai. Tapi tajem. Sadis. Bengis. Dingin. Sapuan yang terasa dan terdengar lembut itu, bisa mematikan.... Ia akan menyeret orang yang ga siap dan ga mempersiapkan diri. Menyedot dan menariknya ke tengah lautan.

Yaa Rabb...

Ya, kadang2 suara yang melemahkan itu terdengar kayak hiburan... Tapi sekali lagi, jika ga ati2, ia akan memendam impian, 200 meter ke bawah tanah.

"Sudah... Ga kiamat koq ga kuliah..."
"Ga apa... Miskin asal terhormat..."
"Jadi bawahan asal jujur..."
"Ga harus tamat S1 koq..."
"Mamah tetap sayang Kamu, Nak..."
"Juara 3 itu hebat..."

Hehehe. Ga tau ya... Saya lebih senang milih bahasa yang lain...

"Tahun ini juga Kamu tetap kuliah. Malah sekalian aja, ngeplai ke Inggris... Dunia menerima Kamu, koq Nak..."

Misal... Misal kayak gitu...

"Keep going, Bro... Jadilah orang pertama yang kaya raya, di Jakarta, dari kampung kita... Kalau perlu, paling kaya seplanet Bumi... Semanget... Saya temen Kamu, ndoain. Bikin bangga Kampung kita dah..."

Nah, Musa berkata manteb...

Nabi Musa ngasih Clue... Hebat sekali... 1 saja alasan kenapa ia yakin bakal selamat dan menyelamatkan... Dan sekaligus entah gimana gimana ngalahin Fir'aun. Sesuatu yang belum tau gimana... Tapi sudah jadi rasa...

Apa alasan itu...?

"Inna ma'iya Robbii... Karena Allah bersamaku..."

Jeddeeeeer...!!!! Mengggelegar...!!!

"Sayahdiin...", Kata Musa. Allah pasti akan ngasih jalan, beri jalan, nyelametin saya, nyelametin kalian semua... No matter what. No matter how.

Toooooppp.... Iman di Tiitik Nadir...

Ga diliat oleh Musa, bahwa depannya itu lautan...

Data, fakta, logika, buat Musa, minimal ada 3 hal yang melemahkan... Membuat putus harapan, membuat kecil, cemas, kalut, takut, ancur mental...

1. Depan lautan... Seperti udah diceritakan di atas
2. Jumlah pengikutnya, banyak beeeeuuuddd. Iya kalau kondisi prima semua, muda, perkasa, bervitamin, terlatih militer. Ya sekalian aja tempur di kota. Ga usah minggir2. Tapi ini? Duh. Lemah sekali. Kurus2. Dengan perbekalan seadanya. Malah cenderung kurang.. Banyak tua rentanya, banyak perempuan, dan gitu dah. Laki2nya ga banget. Bekas sekian lama dijadikan budak. Kondisi psikis tambah diperberat dengan data, fakta, dan logika yang lain... Yakni fisik juga cape, letih, lelah. Bukan hanya tadi, berjalan sekian hari... Tapi sebab sejarah panjang perbudakan. Kebayang kan? Sekian tahun, diperbudak dg kejam, melelahkan dan meletihkan... Lah trs ditangkep lagi. Yang ini, nanti Fir;aun bakal lebih kejam. Jadi, kondisi kedua ini, harusnya tambah Musa jatuh mentalnya. Tapi ya engga tuh...
3. Fir'aun udah semakin dekat. Kalo bahasa Qur'an, udah bisa melihat Musa dan pengikutnya. Musa dan pengikutnya pun udah melihat Fir'an dan tentaranya.

Jadi, Musa ngelihat tembok besar banget di depan, himpitan tembok di sekitar, seakan ga bisa lari lagi. Kejepit benar. Dan ditambah lagi, belakangnya, Fir'aun...

Bahasa saya ke kawan saya yang lagi down... Sampe sakit2... Kurang lebih begini...

"Siap. tau koq pusat sakitnya, hehehe... Mikirin duit, itu salah 1 nya. (Buat gajian, buat bayaran ini itu, masalah hukum, penyitaan aset, tanggung jawab moral, rasa tanggung jawab, malu, cemas, takut, pas beban banyak banget juga, tugas2, kudu tetep mikir, kudu tetap berkarya...dll..Jadi tumbang, hehehe). Bismilaah. selalu ada jalan. Allah pengen kita jadi Nabi Musa... Apakah Nabi Musa berdiri di depan laut yang menghadang? Bukan. Tapi berdiri di depan Allah Yang Maha Kuasa... Seperti Nabi Musa, yang berdiri sedang di belakangnya adalah Fir'aun? Bukan. Belakangnya Musa juga adalah Allah. So? depan belakang bahaya? Bukan. Depan dan belakang adalah Allah.

kece.

iman itu kece...

Musa juga bersama 400rban pengikutnya, yg lemah? Engga. Musa bersama Allah Yang Maha Hebat, Maha Besar, Maha Kuat, Maha Kaya, Maha Kuasa...

Ga ada itu yg lemah2 dan melemahkan,, kecuali hanya jadi data, fakta, dan logika saja... Ga ada. Yang ada adalah Allah yang membersamai, depan, belakang, dan di seluruh sekitar kita.

Allahu Akbar...!!!""

Ini yang saya kirimkan ke kawan saya.

Dan yang begini2 ini ada banget di www.kuliahwisatahati.com.

Makanya daftar, hehehe. Beli modulnya, hahaha. Murah. Bisa ngebelah lautan...!!!

Ok...

Endingnya kita tau...

Kitab Suci itu bukan hanya cerita yang ga bisa diulangi dan dijalankan... BIsa banget didapet, mewujud, di kisah kita sendiri. Menjadi kisah kita sendiri...

Nabi Musa, happy ending...

DI satu lokasi..., Nabi Musa dan seluruh, seluruh loh... Maha Hebat ini. Maha Sakti... Seluruh pengikut Musa, selamat... Yang mencibir, yang the losers, yang memaki Musa bahkan, yang melemahkan, yang menjatuhkan mentall yang lain... Semuanya diselamatkan Allah. Dan selamatnya di jalanan yang katanya justru lebih bahaya dari Fir'aun. Selamatnya justru di lautan...!!! Laut menjadi jalan. Persis kayak dulu Sungai Nil, waktu "coachingan" perdana saat Musa masih bayi... Hebat ya? Coachingan aja brtahap, hehehe. Pake level. Musa saat bayi, kelasnya Sungai Nil. Lah Sungai Nil jadi kendaraan hebat Musa. Musa dianter oleh Sungai Nil yang harusnya bahaya sekali buat bayi. Ke istana Fir'aun.

Bercanda, kan?

Maha Bercanda.

Istana yang di dalamya ada orang paling kejem... Malah justru di situ Musa diasuh. Gila ini. Logika terbali-balik. Orang paling danger saat itu, malah jadi ayah angkatnya Musa bayi. Konyol ini. Hehehe. Gila banget dah. Skenario apa coba? Dan Musa, di mana bayi semua bayi yang laki2, diburu dan dibantai, lah Musa bayi, malah digendong2 dan mungkin juga ngencingin Fir'aun, hehehe. Pastinya, ngencingin istana Fir'aun. Hahaha. Maaf ya, ga sopan. Uaaaaasssliiii... Kebolak kebalik. Ibunya Musa, secara perempuan juga ikut dibantai, malah juga menjadi penghuni tetap istana Fir'aun. Bersama istri Fir'aun yang salehah. Menyusui anaknya sendiri di istana orang yang sebenernya memburu anak bayi paling dicari...!!! Allahu Akbar...!!!

Ga liat? Ga ada aturan buat Allah? Subhaanallaah. Dan beneran Allah bisa bikin semua keadaan kebolak kebalik.

Makanya kita suka saksikan, orang paling miskin di kampung, yaaa Allah, anak2nya malah jadi orang2 hebat semua, di kota2 besar, bahkan ada yang tingggal di luar negeri. Lengkap dengan cerita bak dongengnya.

Kawan yang ga naek kelas dan bodoh, ternyata ada juga yang jadi profesor... Guru besar. Asli nih. Kebolak kebalik...

Anak yang paling gendut, malah jadi modelm, superstar, bintang olimpiade, peraih emas berkali2...

Kenapa?

Karena mereka jadi Musa kecil... Di urusan menundukkan lautan...!!!

Apalagi kawan-kawan mah muslim mu'min. Ada Allah. Bukan cuma tangguh... Tapi beriman. Top mestinya. Atau jangan2, udah mau ga beriman, ga tanggguh pula? Engga ya? InsyaaAllah beriman dan tangguh. Pantang menyerah. Terus aja berjalan.

Kapan nanti kita jadiin TAUSIAH ZOOM. BUAT YANG UDAH DAFTAR AJA, HEHEHE. DAFTAR DAN BELI MODUL WWW.KULIAHWISATAHATI.COM.

Bukan apa. Perlu pondasi yang kece... Semua yang daftar dan beli modul, dah dapet dulu materi The Beginning... Top ini. Istilahnya, tinggal disetrum dikit... Jadi dah...

Ok, udah dulu ya. Ini juga panjang bener... Hehehe. Mudah-mudahan dibacanya ga skrol skrol. Ga dengan buru2. Tapi dinikmati.

Btw, Fir'aun pun mati. Juga pengikutnya. Di lautan yang sama, yang menjadi jalan bagi Musa dan Pengikutnya. Dan demikianlah Allah menunjukkan Kebesaran dan KekuasaanNya. Kekuatan dan Kehebatan-Nya. Rencana dan KemampuanNya mengekekusi rencana itu.

MaasyaaAllah. Allahu Akbar...

Be Musa my friends...

Jadilah Musa, wahai kawans...

Minimal jadi Yusuf Mansur dah, hihihihi.

+ Emang siapa Elo, Sur...?
- Eiiiiitsss.... Ga kenal...? Presiden RI 2024, 2 Periode...

Hehehe...

Salam, Yusuf Mansur
Salam 2024. ???